Kerak Telor, Penyemarak Ulang Tahun Jakarta

Kerak telor menjadi salah satu makanan khas Betawi yang hingga kini masih banyak dijumpai di sejumlah kawasan wisata. salah Salah satunya di Setu Babakan, Jakarta Selatan, Minggu (5/6/13).

Hikayat Jakarta tak lepas dari jalinan kisah kehidupan sosial budaya warga yang tercermin dari makanan tradisionalnya. Perubahan dalam masyarakat Jakarta, khususnya warga Betawi, dapat dilacak jejaknya melalui beragam kuliner. Salah satunya adalah kerak telor, yang identik dengan penganan khas ulang tahun Jakarta.

Maklum saja, makanan khas Betawi yang terbuat dari campuran ketan, kelapa parut, dan telur bebek atau ayam ini, paling banyak dijajakan saat Jakarta Fair – perayaan tahunan HUT DKI Jakarta berlangsung. Saat Jakarta Fair 2000 saja, tidak kurang ada 150 pedagang kerak telor (Kompas, 24/6/2000), sedangkan untuk perayaan 2018, sekitar 400 pedagang kerak telor menjajakan dagangannya, dari pintu masuk arena JIExpo hingga di ruas-ruas trotoar.

Jakarta Fair dan kerak telor merupakan bagian tak terpisahkan dalam sejarahnya. Oleh sebab itu, ada baiknya, kita menelusuri Jakarta Fair yang sebetulnya reinkarnasi dari Perayaan Pasar Gambir. Perayaan Pasar Gambir adalah pesta tahunan  yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Bedanya, jika Jakarta Fair diselenggarakan menyambut ulang tahun Jakarta, Pasar Gambir digelar untuk menyambut tahun penobatan Ratu Wilhelmina pada 1889.

Sementara dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe (2006), Tio Tek Hong, warga Batavia yang hidup di masa itu, menyebut, Perayaan Pasar Gambir selalu diselenggarakan setiap tahun.  Tepat 31 Agustus yang dipercaya menjadi hari ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Penutupan perayaan pasar Gambir, selalu diramaikan oleh ribuan orang dengan menyalakan pesta kembang api. Budaya tersebut akhirnya diadopsi oleh Jakarta Fair hingga saat ini. (Kompas, 24 Juni 2007)

Sejak Gubernur Ali Sadikin mulai menghidupkan lagi Perayaan Pasar Gambir dengan nama Jakarta Fair pada 1968. Pasar malam itu selalu digelar di Medan Merdeka Selatan, sampai kemudian dialihkan ke kawasan bekas Bandar Udara Kemayoran pada 1992. Saat itu pula, kerak telor menjadi tradisi jajanan tempo doeloe hingga sekarang.

Pembukaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Monumen Nasional, Jakarta 1980.
Kompas/KARTONO RIYADI

Bagi pedagang kerak telor, Jakarta Fair merupakan momen yang paling ditunggu. Saat inilah, mereka bisa berjualan setiap hari selama 40 hari penuh. Padahal jika tidak ada Jakarta Fair, mereka bekerja serabutan sebagai buruh tani atau kuli bangunan. Omzet dari pekerjaan itu pun diduga tidak terlampau banyak.

Salah satunya Suhendar (21). Pria asal Garut, Jawa Barat ini sudah berkecimpung menjadi pedagang kerak telor sejak 2015. Dirinya memanfaatkan Jakarta Fair sebagai ajang untuk mencari penghasilan tambahan. “Tahun lalu, 20 hari berjualan di Jakarta Fair dapat keuntungan Rp 2 juta. Lumayan buat tabungan,” kata Suhendar.

Sejak 1990-an, pedagang kerak telor bukan lagi monopoli masyarakat Betawi yang tinggal di Jakarta. Masyarakat Betawi dari daerah lain juga ikut-ikutan berjualan kerak telor. Bahkan pedagang asal Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat, juga ikut-ikutan menjajakan kerak telor.

Pedagang kerak telor berderet menunggu pembeli di sepanjang jalan Benyamin Sueb, tak jauh dari lokasi Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (13/6/2001).
Kompas/Totok Wijayanto

Memang sejak zaman dahulu, berdagang kerak telor hanya dilakukan oleh orang-orang asli Betawi. Itu pun hanya orang Betawi yang berasal dari daerah Warungbuncit, Mampang, dan  Tegalparang. Sementara itu, antusiasme warga Betawi di daerah lain untuk berjualan kerak telor tidak begitu tinggi. Alhasil, kerak telor hanya tersedia di sentra-sentra tertentu.

Kian Terkikis

Sebagai ikon budaya Betawi, khususnya kuliner, kerak telor berfungsi sebagai makanan seremonial pentas seni budaya dan pariwisata Jakarta. Seiring perkembangan zaman, penjual kerak telor asli Betawi kian menipis, sejalan dengan budaya yang semakin terkikis.

Ratusan warga Garut, Jawa Barat, memanfaatkan pekan Jakarta Fair Kemayoran (JFK), Jakarta Pusat, untuk berjualan kerak telor, Kamis (21/6/18). Sebagian dari mereka berjualan kerak telor pada perayaan tertentu.

Pamastur (70) penjual kerak telor asal Garut mengatakan, pernah belajar membuat kerak telor dari seorang kenalannya asal Jakarta. “Mulai jualan waktu Jakarta Fair Kemayoran masih di Monas. Liat orang jualan, akhirnya saya tertarik untuk jualan juga,” kata Pamastur. Sehari, dirinya bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 100.000 sampai Rp 200.000.

Para pedagang musiman kerak telor ini menjajakan dagangannya di pintu-pintu masuk JFK, serta Taman Pujasera. Imbauan larangan berjualan yang terpampang di spanduk depan pintu JFK pun tak dihiraukan. Mereka tetap menjajakan dagangannya sejak pukul 10.00 – 23.00.

Para pedagang kerak telor tidak mengindahkan larangan berjualan di pintu masuk Jakarta Fair Kemayoran, Kamis (21/6/18).
Fransiskus W Wardhana untuk Kompas.

Menanggapi banyaknya pedagang musiman yang berasal dari luar Jakarta, Pemerhati Budaya Betawi di Unit Pengelola Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi Buchori mengatakan, fenomena itu merupakan akibat dari terkikisnya budaya Betawi dari masyarakat Betawi itu sendiri.

Kerak telor itu kan salah satu budaya Betawi. Seiring dengan terkikisnya budaya Betawi, tentu makanan khas Betawi juga semakin terkikis.

“Kerak telor itu kan salah satu budaya Betawi. Seiring dengan terkikisnya budaya Betawi, tentu makanan khas Betawi juga semakin terkikis. Contoh, banyaknya warga Betawi yang kegusur, akibatnya kan warga Betawi cerai-berai. Nah, Mereka kagak hidup sekampung lagi, tetangga juga beda, akhirnya tercerabut juga budayanya,” kata Buchori.

 Pedagang Asli

Jika di JFK ada ratusan pedagang kerak telor, pemandangan berbeda hadir di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setidaknya, ada 20 pedagang kerak telor dari total 400 pedagang di kawasan tersebut. Selain berjualan, pedagang kerak telor di lokasi ini juga memberi edukasi budaya kepada para pembeli.

Udin (55) pedagang kerak telor asli Betawi yang sudah berjualan selama 30 tahun ini mengatakan, selain dari sisi ekonomi, berjualan kerak telor merupakan upayanya untuk melestarikan budaya Betawi. “Kemarin, Rabu (20/6) ada pelajar dari Oman, Yaman, Jepang, sama Korea, saya ajarin bikin kerak telor,” kata Udin.

Udin (55) sudah berjualan selama 30 tahun di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (21/6/18). Pengetahuan membuat kerak telor merupakan warisan keluarganya. Dionisio Damara untuk Kompas.

Selanjutnya, Udin mengatakan bahwa membuat kerak telor sudah diwariskan secara turun temurun dari keluarga. “Ini yang ngebedain kerak telor buatan orang Betawi sama yang bukan,” kata Udin sambil menunjuk serundeng – makanan khas Indonesia yang dibuat dari parutan kelapa. Menurutnya, untuk pembuatan serundeng ini ada resep khusus yang diturunkan secara turun-temurun dari budaya Betawi.

Hal itu diamini oleh Abdullah (34) salah seorang pembeli kerak telor yang mengatakan bahwa rasa kerak telor berbeda jika pembuatnya bukan dari Betawi.

“Beda banget. Dari serundeng sama ketannya aja sudah beda. Kalau penjualnya bukan orang Betawi, aromanya enggak sewangi ini,” kata Abdullah

Diplomasi Budaya dalam Balutan Kuliner

Sesuai Pergub DKI Jakarta No 11/2017, kerak telor diresmikan sebagai salah satu ikon dari budaya Betawi. Keberadaannya memiliki makna sebagai cerminan dari sisi manusia yang mengalami perubahan lingkungan secara ilmiah. Selain itu, kerak telor juga menjadi lambang pergaulan yang harmonis.Hal itu tercermin dari sejarah persilangan Jakarta sejak berabad lalu yang mewujud dalam kuliner, sehingga bisa menjadi bagian penting dari diplomasi budaya.

“Dibalik kuliner, ada jejak sejarah yang panjang yang di dalamnya ada interaksi antarbudaya masyarakat. dari kuliner ditunjukan Betawi merupakan masyrakat yang sangat hibrid. Kuliner Betawi menceritakan kebhinekaan,” kata dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman (Kompas, 5 mei 2017).

JJ Rizal, sejarawan asli Betawi, berpendapat, kuliner memiliki nilai yang sama dengan karya sastra dan produk kebudayaan lain. Di dalam kuliner ada kearifan lokal, ada artefak budaya yang menyimpan sejarah dan osmosis kebudayaan.

Alhasil, melestarikan budaya kuliner Betawi sama artinya dengan melestarikan kebudayaan Betawi. Di dalam kuliner juga terdapat teks perjalanan sejarah suatu etnis. Untuk itu diperlukan kerja sama antara swasta dan pemerintah agar tercapai pelestarian warisan kuliner Betawi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.