Beragam cara dilakukan untuk memperingati hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Mulai dari pawai, baca puisi, hingga bermain surfing, semua dilakukan sebagai representasi semangat emansipasi yang dikaruniakan R.A Kartini kepada seluruh perempuan di negeri ini. Dari beragam cara tersebut, busana kebaya kerap digunakan untuk menyambut hari tokoh perempuan Indonesia ini.

Festival menyambut hari Kartini dilakukan oleh para peselancar domestik dan mancanegara di Pantai Kuta Bali, Kamis (20/4/2017). Menariknya, para peselancar ini diwajibkan menggunakan kebaya sebagai kostum berselancar. Seorang perempuan asal rusia, Elvina Ensh, mengaku senang dapat memeriahkan festival Kartini tersebut.

“Walau tidak begitu pintar surfing, saya senang bisa ambil bagian. Festival ini sangat menyenangkan karena surfing pakai kebaya,” kata Elvina, seperti dilansir dari kompas.com.

Peringatan hari Kartini memang identik dengan busana kebaya. Melalui sosok Kartini-lah, kebaya mampu mewarnai pesona keelokan busana Indonesia dengan bernafas nilai-nilai ketimuran. Sehingga, eksistensi kebaya sebagai salah satu produk budaya nasional tidak hilang ditelan waktu.

Selain itu, semangat melestarikan kebaya kepada generasi muda pun berhasil diwujudkan oleh komunitas perempuan lewat “1000 Perempuan Berkebaya” di Jakarta, Jumat (3/3/2017). Acara ini mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk mencintai kebaya sebagai busana nasional dan kekayaan budaya bangsa.

Sebagai salah satu warisan luhur dari kebudayaan Nusantara, kebaya tidak hanya dipandang sebagai pakaian adat. Keberadaan kebaya merupakan lambang emansipasi perempuan Indonesia. Hal ini terwakili dengan penetapan kebaya sebagai busana nasional oleh Presiden Sukarno pada tahun 1940-an.

Menurut Sukarno, kebaya dianggap paling ideal untuk mencerminkan keanggunan sosok perempuan Indonesia. Selain nilai estetis, terkandung pula pesan sosial dari penggunaan kebaya, agar perempuan senantiasa berpakaian rapi, pantas, dan menjaga kehormatannya.
Di sisi lain, kebaya hadir sebagai simbol nasionalisme dan identitas bangsa. Nasionalisme tidak melulu bicara soal patriotisme, politis, etnis, dan geografis sebagai faktor pembentuk identitas bangsa. Dalam konteks ini, kebaya pun bisa memainkan peran simbolis dalam penyebaran kesadaran nasionalis.

Akan tetapi, perkembangan model kebaya saat ini cenderung didominasi desain modern. Keluar dari pakem kebaya secara umum, jelas mempengaruhi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi kebaya itu sendiri. Nilai kesopanan, kelembutan, dan keanggunan dari kebaya kian tergerus oleh busana-busana asing.

Melalui hari Kartini, niat mulia untuk melestarikan busana nasional ditengah derasnya gelombang modernitas dan globalisasi budaya asing, bukanlah hal sia-sia. Penggunaan kebaya dalam memperingati hari Kartini, dilihat sebagai salah satu misi budaya tersembunyi. Sebuah identitas berbalut busana dan kekayaan budaya.

Namun, selain penggunaan kebaya. Perengungan buah pikiran dan harapan Kartini tentang kesetaraan gender, persatuan dan nasionalisme, menjadi esensi dalam menyambut hari Kartini. Lebih dari itu, perjuangan Kartini belumlah selesai. Perjuangannya masih berlanjut di tangan Kartini-Kartini masa kini.

Nasionalisme Kartini

Surat-surat dari Kartini kepada teman-temannya, menyiratkan refleksi sosial kritis dari seorang perempuan Indonesia. Tulisannya didasarkan pada religieusiteit, wijsheid en schoonheid (ketuhanan, kebijaksanaan, dan keindahan). Seiring tingginya rasa kemanusiaan dan nasionalisme, Kartini berhasil membuka mata tentang jalan emansipasi perempuan di Indonesia.

Nasionalisme milik Kartini dapat dikategorikan sebagai nasionalisme universal. Gagasannya mengandung nilai-nilai universal, seperti pendidikan, persamaan derajat dan solidaritas sosial. Terkait pendidikan, Kartini kerap mengungkapkan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan peradaban bangsa.

“Ketika pemerintah menyediakan sarana pendidikan untuk rakyat, seolah-olah hal itu seperti menempatkan obor di tangan mereka, kemudian memungkinkan mereka untuk menemukan jalan yang baik, serta mengarahkan dimana tempat nasi disajikan,” tulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 12 Januari 1900.

Kartini sadar, untuk mencapai cita-citanya tentang persatuan dan persamaan derajat manusia, diperlukan perjuangan besar melalui pendidikan. Dirinya memahami, keterbelakangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia disebabkan oleh ketidaktahuan dalam mengatasi kesulitan soal pangan, kesehatan, ataupun pendidikan bagi anak.

Disamping itu, Kartini juga mengingatkan pentingnya persatuan bagi bangsa Indonesia. Dalam suratnya kepada Abendanon pada tanggal 30 Desember 1901, Kartini berharap supaya kalangan muda Indonesia mampu bersatu menggalang persatuan, baik itu pria maupun perempuan.

“Terlepas dari jenis kelamin, sebaiknya mereka bersama-sama memajukan dan membudayakan masyarakat. Kita masing-masing bisa melakukannya tanpa perlu bantuan. Tetapi jika kita bersatu, kekuatan kita akan berlipat ganda berkali-kali,” tulis Kartini.

Selain itu, sisi kemanusiaan begitu melekat dalam diri Kartini. Ia hanya ingin dipandang sebagai individu biasa, bukan sebagai keturunan bangsawan. Bahkan, Ia merasa tidak berbeda dengan rakyat biasa yang sama-sama hidup dibawah kekuasaan bangsa asing. Ini merupakan reaksi kritis dari seorang Kartini, akibat stratifikasi sosial dalam bangunan budaya feodal saat itu.

Sebagai intelektual dari produk politik etis awal abad ke-19. Buah pemikiran Kartini memiliki dimensi luas dalam melihat keprihatinan Indonesia. Ibarat lilin, Kartini adalah lilin harapan di tengah gelapnya ketidakadilan dari warisan budaya masa lalu yang keliru. Kontemplasi kritis Kartini tentang keadaan perempuan di zamannya, berhasil memberi sedikit cahaya pada ruang gelap budaya patriarki Indonesia.

Alhasil, melalui sebuah surat. Kartini berhasil menulis seribu impian untuk bangsa. Kecintaannya terhadap Indonesia dan kaum perempuan, sama terangnya dengan cahaya siang. Dengan pena, Kartini berhasil membuka jendela mata dan pintu jiwa-jiwa perempuan Nusantara. Tanpa suara, kata-kata Kartini melintas dari masa ke masa.

ddt

Advertisements