Banjir air mata mengiringi kepergian KH Hasyim Muzadi. Tepat hari Kamis, pagi pukul 06.15, KH Hasyim Muzadi menghembuskan napas terakhir. Mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) ini diketahui sempat bolak balik menjalani perawatan intensif di RS Lavalette, Malang. Sebelum akhirnya ia meminta pulang ke Pondok mahasiswa Al-Hikam di Kota Malang.

Ketika seorang ulama meninggal dunia, maka satu ilmu pula turut berpulang bersamanya. Begitu saripati salah satu hadis yang diriwayatkan At-Thabrani. Ilmu, secara sederhana bisa di maknakan teladan. Sebuah laku yang bisa dibaca dari sepanjang hidup empunya. Nilai positif yang mesti dijaga dan diwariskan kepada generasi penerusnya.

Beberapa kalangan menilai bahwa di dalam diri Hasyim Muzadi, terdapat kekhasan yang penting untuk dijadikan teladan. Terutama, peran pria kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 ini merupakan sosok yang bisa memberi teladan hidup sebagai orang Islam dan Indonesia sekaligus.

“Pak Hasyim itu bukan sekedar tokoh NU tapi tokoh bangsa karena dia menguatkan bangunan toleransi di Indonesia. Saya kira itu yang tidak dibantah dari Kiai Hasyim,” ujar Mahfud MD, mantan  Ketua Mahkamah Konstitusi, seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (16/3/2017).

Pemikiran-pemikiran Hasyim Muzadi banyak dijadikan teladan. Menurutnya, prinsip moral kebangsaan harus dibarengi dengan pemahaman agama, jika tidak, pergeseran fungsi dari menegakan keadilan sosial akan menjadi sebuah tindakan korupsi dan keserakahan.

Seperti Ulama besar NU lainnya, sederet pengalaman organisasi yang dijalani oleh Hasyim Muzadi telah membentuk karakter pemimipin dalam dirinya. Sebelum memimpin PBNU, Hasyim tercatat pernah memimpin organisasi kepemudaan berbasis NU yakni, Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Perjalanan karir Hasyim Muzadi dimulai dari lingkup lokal Jawa Timur hingga ke tingkat nasional. Penulis buku Membangun NU Pasca Gus Dur (1999) ini pernah menjadi anggota DPRD Kota Malang, DPRD Provinsi Jawa Timur, hingga Ketum PBNU. Karir tertinggi sebagai dewan pertimbangan presiden pun diemban Hasyim Muzadi hingga wafat.

Sebagai seorang Ulama, Hasyim Muzadi juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Sisi humoris terlihat saat dirinya menanggapi berbagai fenomena sosial terkini dengan humor ringan. Kesan humoris itu pula yang kini melekat di hati orang-orang yang mengenal sosok ayah dari enam anak ini.

Nasionalis-Religius

Menjadi Islam sepenuhnya, sekaligus menjadi Indonesia sepenuhnya. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sosok Hasyim Muzadi, tokoh Islam nusantara sekaligus cendekiawan bangsa. Kebijaksanaannya dalam pikir, tutur kata, dan tindak tanduk Hasyim Muzadi memang tidak terbantahkan.

Dalam jati diri Hasyim Muzadi, tertanam nilai keislaman dan keindonesiaan terlihat sebagai satu paduan yang harmonis dan tidak konfrontatif. Nasionalis-Religius, itulah warisan terbaik dari sang Kiai untuk bangsa ini. Warisan ini harus dipupuk agar terus mengakar di bumi nusantara Indonesia. Karena itu, dalam menjaga dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, nasionalisme mesti diwujudkan dalam setiap dimensi kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Hasyim Muzadi pernah menyatakan, bahwa negara harus dipimpin oleh orang yang mengerti akan pondasi Islam kultural yang direpresentasikan oleh NU. Sekaligus oleh orang yang berjiwa nasionalis. Melalui jiwa-jiwa nasionalis inilah bangsa Indonesia dapat ditegakkan dan dibangun dengan akar pondasi kuat.

“NU tidak menolak nasionalisme, itulah yang diajarkan oleh para pendiri NU, bahkan hanya orang NU lah yang dapat mengislamkan nasionalis,” tutur Hasyim Muzadi saat menjadi narasumber dalam pleno V Rakernas dan Mukernas Muslimat NU, di Gedung Serba Guna 1 Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, Kamis (29/5/2014).

Dalam konteks ini, nasionalisme menjadi sesuatu yang mengikat (kalimatun sawa) dengan syarat adanya komitmen terlebih dahulu untuk menjamin kedaulatan rakyat di depan negara. Siapa yang bertanggung jawab terhadap nasionalisme? Tentu saja adalah semua kelompok yang ada di dalam NKRI, baik atas nama agama, suku, kelompok kepentingan, atau golongan manapun.

Untuk memahami semangat nasionalis-religius dari Hasyim Muzadi, pertama-tama harus dipahami bahwa baginya, ajaran Islam tidak hanya mengatur pokok-pokok moral saja. Tetapi juga mengajarkan masalah-masalah yang rinci tentang bagaimana umat manusia harus bertindak, baik dalam konteks hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama, termasuk di dalamnya tata cara membangun semangat nasionalisme.

Pada titik ini Hasyim Muzadi kembali mengingatkan, bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai agama, suku dan bahasa. Oleh karena itu, jika masing-masing elemen bangsa melihat kepentingan golongan atau pribadinya sendiri, maka Indonesia akan mengalami disintegrasi sosial yang berujung pada keruntuhan bangsa dan negara ini. Sebaliknya, nasionalisme tanpa pemahaman agama pun akan membawa bangsa ini ke arah krisis moral.

“kecerdasan dan kepandaian itu bukan segalanya, ia masih bergantung pada kejiwaan. Ketika kejiwaan itu goncang, maka kecerdasan pun juga goncang. Intelektualitas bisa goncang karena instabilitas rohani.” – KH. Hasyim Muzadi.

Melalui pemikiran tersebut, Hasyim Muzadi sepakat untuk mempertahankan dan memantapkan nasionalisme Indonesia tanpa membedakan garis kepentingan agama, umat, suku, golongan, dan kepentingan sendiri. Dirinya berkomitmen untuk tetap mengokohkan semangat nasionalisme, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai dan ajaran agama Islam.

Dengan semangat nasionalis-religius yang diwariskan, kini Hasyim Muzadi telah berpulang dengan tenang. Setiap kata yang pernah ia sapa memberi gairah pada hidup. Setiap canda yang ia kelakarkan memberi senyum pada kemelut. Dengan warisan yang ditanamkan, Hasyim Muzadi tumbuhkan asa bangsa kedepan. Dengan pergi, Hasyim Muzadi abadi.

Dionisio D Tonce

Advertisements