Catatan Kontemporer

“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami” tulis pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson.

Aku menyadari bahwa setiap anak manusia pantas untuk disalahpahami, bahkan di caci maki. Aku memang bukan Copernicus ataupun Yesus. Aku hanyalah manusia berdaging yang tidak seutuhnya murni. Seorang anak manusia berdosa yang kerap diselimuti langit gelap masa lalu dan masa yang akan datang.

Namun, dalam kata-kata yang tidak pernah terucap, diriku membatin.

“Tuhan berilah aku cahaya yang memungkinkanku melangkah aman meninggalkan kegelapan.”

Aku percaya, bahwa hanya dalam diam, Tuhan sebagai bahasa kebenaran punya ruang untuk hadir di relung hati.

Seperti kata Bunda Theresa, “Tuhan adalah karib kesunyian. Pepohonan, bunga, dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Tengok juga bintang, bulan, dan matahari, semua bergerak dalam sunyi.”

Momen kesunyian ini aku harapkan mampu menjadi sebuah ritus reflektif, yang memaksa tubuh ini keluar dari lorong keramaian masa lalu dan menuju jalan kesunyian.

Hanya dalam kesunyian dan ketelanjangan diri, aku menyadari, bahwa ada kekudusan dalam kepasrahan. Hanya dengan belajar menikmati sunyi, aku memiliki kemungkinan harapan untuk keluar dari kegelapan.

Bunda Theresa kembali menyampaikan bahwa, buah dari kesunyiaan adalah peribadatan; buah dari peribadatan adalah keyakinan; buah dari keyakinan adalah kecintaan; buah dari kecintaan adalah pelayanan; dan buah dari pelayanan adalah perdamaian.”

Alhasil, kesunyian menghadirkan kekayaan yang lain, sebuah kekayaan akan keniscayaan yang bermuara kepada pembaruan dan perubahan. Semua terlepas dari kegaduhan, bising suara yang nyaris menutupi suara orang lain, bahkan suara batin sendiri.

Kemudian, suara itu berbisik perlahan.

“Pergilah, tinggalkan kegelapan dan letakkan tanganmu pada tangan Tuhan. Hal itu akan lebih baik bagimu ketimbang cahaya, dan lebih aman daripada jalan yang kau kenal.”

Melalui momen reflektif ini, aku meyakini, bahwa hanya dengan misteri pengorbanan diri dan dalam kesunyian, seseorang bisa mengalami sebuah kelahiran yang baru.

Dionisio D Tonce

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.