Akulah sang waktu

Bersemayam di jantung malam, aku pergi.

Dibalik jubah matahari, aku berlari.

Di sepanjang jalan lempuyangan, dengan seksama, Drip mengamati   deretan warung di kiri jalan. Dilayangkan pandangannya kearah warung yang tidak begitu ramai, Namun, sepertinya cukup nyaman untuk menunggu seseorang. terlihat hanya ada dua pria dewasa yang sedang asik bercengkrama.

sepertinya disini saja.

Drip segera mematikan motor vario merah marun milik saudaranya. Setelah itu ia menepikannya ke bahu jalan.

Ibu penjaga warung segera menyambut Drip

“Minum opo mas?”

“Kopi hitam ya bu, satu.” Jawab Drip seraya tersenyum.

“Yowis, tunggu yoo. Silahkan duduk.”

Drip memilih bangku plastik berwarna merah, yang tampaknya cukup kokoh untuk menopang tubuhnya yang ceking.

Disini, di bawah remang lampu jalan, stasiun tua itu tepat dihadapannya.Stasiun yang berumur 142 tahun itu masih beroperasi dengan baik, dengan layanan 16 kereta api yang setia mengunjunginya setiap hari.

mungkin sebentar lagi sampai.

Sambil terus menerawang, ingatan-ingatan itu mewujud perlahan. Gambaran perempuan berambut pendek itu muncul. Menampilkan bayangan dirinya yang tengah duduk di kereta api Bengawan dengan 12 gerbong dan 212 kursinya.

“Mas iki kopine.” 

Oiya terimakasih, bu.” Jawab Drip setengah kesal karena lamunannya dibuyarkan.

Drip bukanlah pecinta kopi, ia bukan tipe orang yang senang menghabiskan waktunya di coffe shop sambil wifi-an. Namun, kali ini ada pengecualian. Dalam situasi seperti ini, ia memilih kopi untuk menenangkan pikiran.

Sambil menyeruput kopi, yang masih panas, Drip terus memperhatikan pintu keluar stasiun yang mulai dipenuhi kendaraan maupun pedestrians yang lalu lalang. Jelas, ia tak mau melewatkan satu orang pun.Tidak, tidak satu orang pun.

Stasiun lempuyangan mulai ramai. Terlihat beberapa orang sedang menanti kedatangan sanak saudara, istri atau bahkan pacar. Di sisi timur, tampak sepasang muda-mudi tengah asik berpelukan, melepas belenggu rindu, tanpa perlu merasa risih jika ada  yang memperhatikan mereka.

Sepetrtinya rindu tengah menguasai mereka.

Keramaian ini sudah biasa bagi Drip. Ya, sudah hampir satu minggu ia di Jogjakarta, tempat dimana Katon Bagaskara mengabadikan nama kota pendidikan itu dalam lantunan lagu legendaris miliknya.

“Walau kini kau tlah tiada tak kembali. Namun kotamu hadirkan senyum mu abadi. Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi. Bila hati mulai sepi tiada terobati”

Refrain lagu Kla Project berdengung begitu saja melantunkan nada di telinga Drip, tanpa perintah. Seakan otaknya sudah diatur sedemikan rupa mengikuti suasana hatinya yang tengah rindu seseorang.

Setengah tersadar, Drip mulai melirik layar ponsel Nokianya, sambil menekan tombol unlock di sisi kanan. Sepertinya belum ada pesan yang terpampang. Sementara Jam analog sudah berhenti tepat di angka 21:45.

Seharusnya sudah sampai..

(Continued..)

Advertisements